FILM ASAL LEBAK, HIKAYAT HAYAT TANAH BAYAH (THE WAVES SAGA) KARYA BADRUL MUNIR, RESMI TAMPIL DI INTERNASIONAL FILM FESTIVAL TOTTERDAM (IFFR) 2026
Sarmin | 02 Februari 2026 | Dibaca 1 kali

Film asal Lebak, Hikayat Hayat Tanah Bayah (The Waves Saga) karya Badrul Munir, resmi tampil di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026

ROTTERDAM - Film asal Lebak, Hikayat Hayat Tanah Bayah (The Waves Saga) karya Badrul Munir, resmi tampil di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026 @iffr . Kehadiran ini menandai langkah Lebak di panggung sinema dunia—membawa cerita, budaya, dan identitas lokal ke level internasional. Senin, (02/02/2026)
.
International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026 diselenggarakan pada 29 Januari–8 Februari 2026. Indonesia mencatatkan partisipasi yang sangat membanggakan dengan mengirimkan 7 film, terdiri dari 5 film panjang dan 2 film pendek, menjadikan Delegasi Indonesia yang dipimpin langsung oleh Menteri Kebudayaan RI , Bapak Fadli Zon sebagai salah satu negara dengan jumlah partisipasi terbanyak pada edisi tahun ini.
.
Salah satu film yang mendapat perhatian internasional adalah Hikayat Hayat Tanah Bayah (The Waves Saga), yang berhasil masuk dalam seleksi resmi IFFR 2026 karya Badrul Munir yang merupakan Ketua Tim Pemajuan Kebudayaan Kabupaten Lebak.
.
Keikutsertaan film ini tidak hanya menjadi pencapaian bagi perfilman nasional, tetapi juga membawa dampak strategis bagi Kabupaten Lebak. Melalui medium film, Lebak semakin dikenal dunia sebagai wilayah yang kaya akan cerita, budaya, dan lanskap yang kuat untuk pengembangan industri kreatif dan perfilman. Partisipasi ini membuka peluang promosi daerah, penguatan identitas budaya lokal, serta pengembangan ekosistem ekonomi kreatif berbasis film dan pariwisata budaya.
.
Lebih dari itu, pencapaian ini menjadi pesan penting dan motivasi bagi para sineas muda, khususnya dari daerah:
bahwa cerita lokal memiliki nilai universal, dan karya yang lahir dari kampung halaman mampu menembus festival film kelas dunia. Dengan keberanian bercerita, konsistensi berkarya, dan kesetiaan pada akar budaya, film daerah dapat berdiri sejajar di panggung internasional.
.
Lebak hari ini telah melangkah.
Semoga semakin banyak sineas muda yang menyusul—merekam, merawat, dan menggemakan cerita daerahnya ke dunia.

BAGIKAN :